Sampah medis Covid-19 bertambah, Menristek siapkan program sampah

Sampah-medis-Covid-19-bertambah,-Menristek-siapkan-program-sampah

Pandemi COVID-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Namun, pemerintah Indonesia terus berupaya untuk menangani dan mencegah Covid-19 guna menahan peningkatan jumlah Covid-19.

Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, penanganan Covid-19 bukan hanya tentang upaya penyembuhan dan pencegahan.

Sampah-medis-Covid-19-bertambah,-Menristek-siapkan-program-sampah

Saat ini, Indonesia juga sedang bergelut dengan isu terkait Covid-19 lainnya.

Masalah ini terkait dengan keberadaan sampah atau sampah Covid-19.

“Limbah ini misalnya alat pelindung diri (APD), masker dan limbah dari penggunaan rapid test misalnya,” kata Bambang dalam webinar forum diskusi ilmiah virtual di kanal Youtube Kementerian Riset dan Teknologi, Jumat (5/2). 2021).

Terkait hal itu, Menristek tidak ingin penanganan Covid-19 meninggalkan kasus baru sampah.

Karena keberadaan limbah ini akan berdampak serius bagi lingkungan.

Untuk itu, pihaknya juga serius dalam pengendalian sampah Covid-19. “Itu juga harus dipertimbangkan. Kami akan fokus pada sampah akibat Covid-19,” kata Bambang.

Belum lagi, vaksinasi yang dimulai tahun ini berpotensi menambah daftar sampah baru Covid-19. Terutama limbah jarum suntik.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Menurutnya, pemborosan jarum suntik akan sangat besar.

Mengingat vaksinasi dilakukan terhadap 180 juta orang dan dilakukan dua kali dalam dosis tertentu. Untuk melakukan ini, setidaknya 360 juta jarum diubah menjadi limbah.

“Nah itu yang kita coba untuk sistemnya, kita sudah punya alatnya dan mudah-mudahan bisa segera digunakan sehingga kita bisa menghindari pemborosan dalam jumlah besar. Kita berharap metode yang akan kita gunakan akan cepat bisa teratasi. ” dia berkata.

Baca juga: Bisakah sariawan jadi gejala baru Covid-19? Ini penjelasan pakar Unpad
Menristek dukung sel punca

Selain masalah limbah, Bambang menegaskan metode mesenchymal stem cell (MSC) diyakini mampu menawarkan terapi medis bagi penderita COVID-19 kategori parah. Tahap studi klinis juga dilakukan.

“Status sel punca mesenkimal yang dikembangkan Prof Ismail dari Universitas Indonesia ini sudah teruji secara klinis dan diajukan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mendapatkan izin penggunaannya,” kata Bambang.

Menurut Bambang, ini melengkapi terapi pemulihan bagi penderita COVID-19 ringan dan sedang. “Kalau ada ringan dan sedang, harus ada terapi untuk kategori berat,” ujarnya.

Menristek mengatakan penelitian dan penggunaan sel punca perlu ditingkatkan agar seiring berjalannya waktu, selain terjamin keamanannya, di atas semua itu juga terjamin efektivitasnya.

“Artinya bisa meningkatkan angka kesembuhan, dan yang terpenting bisa menurunkan angka kematian. Ini merupakan hal penting dalam ‘pengobatan’ (treatment), karena penyembuhan dapat ditingkatkan dengan menurunkan angka kematian secara signifikan,” kata Bambang.

Ia mengatakan ada terapi eksosom lain untuk melengkapi terapi sebelumnya. Sejauh ini, persetujuan BPOM untuk produksi eksosom yang akan diperiksa telah diperoleh.

“Tidak hanya sel pemulihan, sel punca dan eksosom, akan ada vaksin merah putih yang belum bisa digunakan atau disetujui hingga 2022,” kata Bambang.

Baca juga: Menristek: Genose bisa tes skrining Covid-19 hingga 100.000 kali
Tingkat kesembuhannya cukup tinggi

Ketua konsorsium sel punca PRN, Ismail Hadisoebroto Dilogo, yang juga hadir mengatakan, sel punca memiliki fungsi memperbaiki atau memperbaiki jaringan.

“Stem cell ditanamkan di area yang selnya rusak sehingga bisa melalui proses penggantian sel yang rusak,” ujarnya.

Sel punca dan eksosom digunakan dengan cara disuntikkan melalui pembuluh darah. Sel induk dan eksosom memasuki aliran darah kecil ke jantung kanan dan dipompa dari paru-paru ke alveoli.

Eksosom bertindak sebagai mediator komunikasi antar sel, yang sangat penting dalam mengatur pertukaran protein dan materi genetik antara donor dan sel sekitarnya, sehingga mendorong perbaikan sel. Eksosom harus berasal dari sel punca mesenkim yang sehat.

Sementara itu, Ahli Ortopedi dan Traumatologi Bambang Darwono mengatakan

LIHAT JUGA :

indonesiahm2021.id
unesa.id
unimedia.ac.id
politeknikimigrasi.ac.id
stikessarimulia.ac.id
ptsemenkupang.co.id

About Aldi 203 Articles
TERUSLAH BERUSAHA PANTANG MENYERAH