Albertus Soegijapranata: Pendidikan, Penggembalaan dan Akhir Hidupnya

Albertus-Soegijapranata-Pendidikan-Penggembalaan-dan-Akhir-Hidupnya

Albertus Sugiyapranata, lebih dikenal dengan nama gadisnya Soegija, adalah uskup pribumi pertama di Indonesia.

Ia dikenal dengan sikapnya yang pro-nasionalis, sering disebut sebagai “100% Katolik, 100% Indonesia”.

Albertus-Soegijapranata-Pendidikan-Penggembalaan-dan-Akhir-Hidupnya

Soegijapranata juga membantu mengakhiri pertempuran lima hari itu

, menuntut pemerintah pusat mengirim seseorang untuk menangani kerusuhan di Semarang.

Ia meninggal di Steyl, Belanda, pada tahun 1963, dan jenazahnya diterbangkan kembali ke Indonesia.

Soegijapranata dinobatkan sebagai pahlawan nasional dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang.

Baca juga: KH Zainul Arifin Pohan: Kehidupan, Karir, dan Panglima Hizbullah
Kehidupan

Soegijapranata lahir pada tanggal 25 November 1896 di Surakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Ayahnya adalah seorang punggawa di Susuhunan Surakarta. Soegija berasal dari keluarga muslim. Kakek Soepa adalah seorang Kiai.

Ketika Soegija masih kecil, mereka pindah ke Yogyakarta.

Di sana sang ayah menjabat sebagai abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk Sultan Hamengkubuwono VII, sedangkan ibunya menjadi penjual ikan.

Soegija memulai pendidikannya di Sekolah Angka Loro di kawasan Kraton.

Karena dianggap anak yang cerdas, Soegija pada tahun 1901 oleh pendeta Yesuit Pr. Frans van Lith ke Xavier College, sebuah sekolah Yesuit di Muntilan.
pelatihan

Soegija mulai belajar di Kolese Xaverius pada tahun 1909. Kolese Xaverius sendiri merupakan pesantren bagi calon guru.

Soegija yang tumbuh besar menuntut ilmu keislaman, memintanya pada tahun berikutnya untuk bisa mengambil pelajaran agama Katolik.

Hal ini ia lakukan untuk memaksimalkan fasilitas sekolah.

Pastor Mertens, gurunya, menjelaskan bahwa Soegijah perlu izin orang tuanya sebelum bisa ikut.

Soegija tetap diperbolehkan mengikuti perkuliahan meskipun orang tuanya tidak mengizinkan.

Soegija juga memperdalam ilmu Katolik. Bahkan, dia meminta untuk dibaptis.

Soegijo dibaptis pada tanggal 24 Desember 1910 dan mengambil nama baptis Albertus.

Selama liburan Natal, Seogija memberi tahu keluarganya hal ini dan diterima dengan baik oleh ayah dan ibunya.

Namun, keluarga besar Soegija tidak ingin berhubungan lagi dengannya.

Pada tahun 1915 Soegija menyelesaikan pelatihannya dengan Xaverius dan menjadi guru. Pada tahun 1916 ia masuk Seminari Xaverius, sebuah lembaga pendidikan untuk calon imam Katolik Roma. Pada tahun 1919 ia menyelesaikan studinya.

Baca juga: Raja-Raja Kerajaan Bali
Vikaris Apostolik

Vikaris Apostolik adalah bentuk otoritas regional dalam Gereja Katolik Roma yang dibentuk di daerah-daerah misi dan di negara-negara yang belum memiliki keuskupan.

Jumlah umat Katolik meningkat di Hindia Belanda.

Hal ini membuat, Mgr. Petrus Wilekens, Vikaris Apostolik Batavia, mengusulkan untuk mendirikan Vikariat Apostolik di Jawa Tengah dengan kedudukan di Semarang.

Pada tanggal 25 Juni 1940, Vikariat Apostolik dibagi menjadi dua bagian, bagian timur menjadi Vikariat Apostolik Semarang.

Pada tanggal 1 Agustus 1940, Willekens menerima telegram dari Kardinal Giovanni Battista Montini yang memberitahukan bahwa Soegija akan menjadi kepala baru Vikariat Apostolik.

Mendengar kabar itu, Soegija menyetujui tugas barunya, meski terkejut dan gelisah.

Pada tanggal 30 September 1940, Soegija berangkat ke Semarang.

Pada tanggal 6 Oktober, Seogija ditahbiskan atau ditahbiskan oleh Willekens di Gereja Rosario Suci di Randusari.

Setelah dia ditahbiskan menjadi uskup, hal pertama yang dia berikan kepada Willekens adalah surat pastoral dengan cerita bahwa Soegijah bisa menjadi uskup.

Ia juga menerbitkan surat Maximum Illud dari Paus Benediktus XV, kepala Gereja Katolik.

Soegijapranata mulai mendefinisikan hierarki gereja di Jawa Tengah, termasuk pembentukan paroki baru.

Ada 84 imam (73 Eropa dan 11 pribumi), 137 bruder (103 Eropa dan 34 pribumi) dan 330 biarawati (251 Eropa dan 79 pribumi) di wilayahnya.

Baca juga: Raden Mas Surjopranoto: Latar Belakang, Pendidikan dan Pergerakan
Masuk ke Jepang

Jepang bergabung dengan Nusantara pada awal tahun 1942. Hal ini tidak dapat dicegah oleh kekuatan kolonial.

Pada tanggal 9 Maret 1942, Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan pemimpin Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), Jenderal Hein ter Poorten, menyerah.

Berbagai jenis perubahan terjadi. Pemerintah Jepang menangkap dan menahan ribuan pria dan wanita, kebanyakan orang Belanda, baik orang awam maupun pendeta.

Pemerintah juga menetapkan pedoman yang mengubah cara pameran dagang diadakan.

Penggunaan bahasa Belanda, baik lisan maupun tulisan, dilarang dan sejumlah bangunan gereja dilarang

LIHAT JUGA :

https://indi4.id/
https://connectindonesia.id/
https://nahdlatululama.id/
https://www.bankjabarbanten.co.id/
https://ipc-hm2020.id/
https://sinergimahadataui.id/

About Aldi 203 Articles
TERUSLAH BERUSAHA PANTANG MENYERAH